(Ternyata) Saya Butuh Asisten Rumah Tangga

Awalnya, saya pikir saya cukup tahan banting dengan mengerjakan segala pekerjaan rumah tangga seorang diri. Toh, saya ini ibu rumah tangga. Kan memang pekerjaan utamanya mengurus rumah tangga.

Idealnya memang seperti itu…

Namun, mulai dari vertigo yang menyerang, mendadak bengek kumat karena debu yang selalu hadir (yang ini ceritanya panjang) hingga kelelahan luar biasa. Kelelahan ini yang membuat emosi saya kurang oke. Ditambah lagi harus mengurus kakang yang mulai TK dan tetap menjalankan TPA di sore hari serta adek yang sering rakus saat menyusu, membuat kelelahan saya menjadi-jadi. Jadwa dan bala bantuan yang awalnya akan diberikan oleh pak suami pun buyar. Intinya, semua pekerjaan rumah tangga lebih sering saya lakukan seorang diri. Termasuk mencuci mobil *lap keringet.

Sebelum saya menyadari, pak suami sudah mengajukan proposal agar kami memiliki seorang asisten yang siap membantu saya dalam hal beberes rumah. Sayangnya, saya belum tergerak. Nggak paham juga sih, kenapa saya lebih mikir “ih, gw kan IRT. Masa iya pake asisten??”. Padahal, IRT juga manusia biasa. Punya rasa lelah.

Sampai akhirnya, HNP saya kumat kembali untuk ketiga kalinya. Dimulai dari kambuhnya HNP ini, baru saya sadar bahwa saya sedang membutuhkan bantuan dari orang lain. Istilahnya, nggak semuanya bisa dikerjain sendiri. Kalau terus dipaksakan, kasihan badan saya. Imbasnya tentu ke anak-anak dan pak suami. 

Walau tahu saya membutuhkan bantuan, tetap saja saya masih banyak perhitungan. Terutama soal gajinya. Haduh, sempat mikir rasanya sayang banget ngeluarin gaji segitu. Beginilah kalau basicnya (eks) mahasiswi ekonomi 😅. Semuanya dihitung dengan seksama.

Tapi ya, demi keharmonisa jiwa-raga saya dan keluarga, akhirnya seorang mpok mau bekerja dirumah kami yang mungil ini. Meski awalnya sempat meragukan, setelah hampir seminggu berjalan, saya melihat kinerja mpok bisa diandalkan. Yang lebih enak lagi, dia mau terbuka siapa suaminya, dimana kontrakannya dan sempat membawa anaknya yang bungsu ke rumah.

Soal hasil kerjanya, sampai detik ini saya cukup puas. Pun tidak perlu susah payah bagi saya untuk memberikan instruksi berulang kepada mpok. Rumah selalu bersih dan rapi, anak-anakpun bisa saya momong secara optimal.

wajah ceria setelah ada mpok dirumah 😍

Mudah-mudahan ini awal yang baik bagi saya dan mpok ya. Dan semoga mpok betah disini…

Mereka yang Saling Sayang

Minggu kemarin,  Fariz genap berusia sebulan.  Alhamdulillah,  sehat semua.  Dokternya juga bilang,  Fariz sehat. Yang membahagiakan,  berat badannya menjadi 4,9 kg.  Naik 1,3kg 😁.

Alhamdulillah,  Fariz benar-benar hanya mengonsumsi ASI.  Meski jungkir balik dalam memberikan ASI,  tapi melihat perkembangan Fariz membuat saya terus bersemangat.  Jadi ingat saat memberikan ASI untuk kakang dulu. Karena sempat mengalami baby blues yang membuat ASI mampet selama 3 hari,  akhirnya kakang mencicipi sufor.  Untunglah,  semangat saya bangkit lagi.  Baby blues hilang dan ASI pun hadir kembali.

image

Kakang dan Dedek

Soal perkembangan lainnya,  sejauh ini semua baik-baik saja.  Mudah-mudahan selanjutnya makin baik ya,  Aamiin. Yang bikin seneng adalah setiap kali melihat mereka berdua berkomunikasi.  Lucu deh.  Kakang bicara jelas dengan Bahasa Indonesia dan dedek membalas dengan bahasa bayi.  Herannya,  mereka berdua tetap ngobrol.  Eye contact juga loh! Makanya saya sering terkagum-kagum dengan cara mereka berkomunikasi. Benar-benar komunikasi dari hati.

image

Hanya mereka yang paham

image

Let me talk to you, bro

Bukan hanya eye contact,  kakang pun selalu menjaga adeknya.  Ini bukan disengaja atau saya suruh-suruh loh ya.  Tapi dia sendiri yang berbuat demikian.  Bahkan,  di tengah-tengah tidur pun,  kakang bisa bangun sebentar untuk mengelus-elus bahu adeknya atau sekedar menyentuh adeknya. Kalau lagi sadar,  biasanya si adek dicium-cium sih 😄. 

image

Bikin mamanya meleleh saat melihat ini

Memang,  sejak di kandungan,  saya selalu mengajak kakang untuk berkomunikasi dengan adeknya. Saya biarkan kakang memanggil adeknya dengan nama “Daniel”, saya biarkan kakang ikut mengelus-elus perut saya (mulai dari masih rata hingga membuncit),  dan saya biarkan kakang bernyanyi atau bercerita kepada adeknya yang masih di dalam kandungan. Tujuan saya cuma satu,  menciptakan ikatan kuat antara mereka berdua.

image

Detik-detik menjelang kelahiran Fariz

Ternyata,  usaha saya tidak sia-sia *lega.  Bukan hanya rasa memiliki diantara mereka yang kuat,  namun timbul kasih sayang diantara merek berdua,  terutama kakang.  Dan kakang pun berani mengekspresikan rasa sayang itu dalam sikap yang nyata.  Nggak heran kalau akhirnya orang-orang di sekitar kami menyebut “Kakang romantis ya sama adeknya”.  Karena perlakuan kakang memperlihatkan betapa dia menyayangi adeknya.

Adeknya juga sama.  Dari eye contact yang ada,  saya melihat bahwa si adek menyayangi kakaknya.  Tiap kali diajak main,  dia memperhatikan kakaknya. Tiap kali diajak bicara oleh kakang,  dia memperhatikan dengan baik. Tiap kali kakang melakukan hal yang konyol, dia ikut menanggapi dengan bahasa bayi. Lucu melihat mereka berdua.

image

Entah apa yg diobrolin...

Sekarang sih,  saya berhasrat untuk terus memupuk rasa sayang diantara mereka berdua. 

Pokoknya,  jangan sampai rasa memiliki diantara mereka hilang atau pupus. Justru harus makin meningkat.

  Soalnya,  mereka adalah saudara sedarah,  lahir dari kandungan yang sama.  Jika kami-orangtuanya sudah tiada,  kelak mereka harus bisa untuk saling menjaga. Mereka berdua harus bisa untuk saling bekerjasama,  saling menghormati dan saling menjaga.

image

Dalam tidur pun, mereka kompak bergaya

Kakang dan dedek…
Kalian harus selalu bersama
Kalian harus mau untuk bekerjasama
Kalian harus saling menghormati
Kalian harus saling menyayangi

Mungkin…

Kalian akan saling mendebat
Kalian akan bersilang pendapat
Kalian akan saling kesal
Kalian akan merasa sebal
Kalian akan sedikit cuek
Kalian akan sedikit berjauhan

Tapi…

Kalian harus tetap memelihara rasa saling memiliki. Karena kalian adalah saudara,  kalian adalah keluarga. Dan keluarga itu tidak pernah terputus hubungannya.

Dan kalian harus ingat,  keluarga adalah tempat kalian berpulang dengan hati,  kapanpun itu…

image

My fave pict... Ever!

By my phone

Ketika Papa Berpulang…

Pada akhirnya,  saya rasakan ikhlas yang sebenarnya ketika dihadapkan pada kepergian kedua orang tua saya…

Saya masih berduka.  Satu-satunya orangtua yang saya miliki,  papa tersayang,  akhirnya berpulang juga menghadap-Nya.  Setelah setahun kepulangan mama,  kali ini papa yang menyusul.  Iya,  saya tahu bahwa saya,  suami atau anak-anak (yang dititipkan)  pada saya akan berpulang juga.  Meski tahu setiap manusia manapun akan bertemu dengan batasan umurnya,  tetap saja airmata saya mengalir ketika mengantar kepergian papa.

Tapi,  saya masih bersyukur karena saya masih bisa bertemu papa di sela-sela sakaratul maut yang dihadapinya.  Saya masih bisa menyebut nama Allah di telinga papa,  menggenggam tangannya yang mulai memucat disela-sela sisa nafasnya hingga menyaksikan kepergiannya dengan sempurna.  Kemudian bersama-sama dengan kakak-kakak,  adik,  ponakan dan mertua saya serta adik ipar juga seorang tante dari pihak suami yang turut melafalkan nama Allah disamping papa juga mengucapkan “Innalillahi…” bersama-sama.

Menangis itu pasti. Rasa sedih karena ditinggalkan sangat terasa di hati.  Sungguh,  tidak bisa saya jabarkan.  Hanya saja,  rasa sakit ini didominasi oleh penyesalan saya selama ini. Menyesal karena merasa belum bisa membahagiakan orang tua tersayang. Keinginan terakhir papa untuk bertemu Fariz pun belum terlaksana,  meski kami rencanakan saat lebaran akan pulang menemui papa.

Begini rasanya tanpa orang tua ya.  Begini rupanya perasaan menjadi yatim piatu.  Memang,  saya harus lebih bersyukur karena orangtua berpulang ketika kami –  anak-anaknya –  telah tumbuh dewasa,  berkeluarga dan hidup mandiri.  Tapi tetap saja,  seperti kehilangan pegangan hidup.  Toh,  saat melahirkan Fariz kemarin,  saya terus menerus mengucap nama Allah SWT sembari mengingat wajah mama dan papa. Tetaplah orangtua saya yang saya ingat.

Sekarang,  tugas kami sebagai yang hidup untuk menjaga amanah yang ada yaitu adik saya.  Fokus kami semua agar dia kuliah dan bisa hidup mandiri.  Kami semua akan menjaganya hingga ia bisa mandiri nanti.

Selamat jalan,  papa tersayang.  InshaAllah,  sakit yang papa dapatkan akan menjadi penggugur dosa-dosa papa.  Aamiin…

image

Foto terakhir papa bersama kakak-kakak. Sayang, saya nggak ada disitu karena baru selesai melahirkan...

By my phone

Harus Dijalani Saja, Ya

Harus jujur,  ternyata merawat dua anak itu susah.  Iya,  susah. 

Ngeluh ya saya.  Habis memang begitu kenyataannya.  Saya agak keteteran ketika orok baru lahir sampai 14 hari berikutnya.  Meski dramanya nggak terlalu banyak karena kakang hampir mau mengerti. Hampir loh,  ya.  Berarti,  kadang-kadang dia juga nggak mau ngerti 😂.

Tapi,  mungkin itulah seninya menjadi ibu baru (baru dua anak,  maksudnya).  Tanpa asisten,  tanpa saudara disini,  tanpa sanak keluarga (aslinya sih pengen mewek).  Cuma,  nggak tau dari mana,  setelah kelahiran anak kedua jarang mewek 😁.  Bisa jadi,  inilah yang menyebabkan baby blues tidak hadir setelah saya melahirkan dedek.  Padahal,  sesekali harus begadang juga,  bolak balik matiin kompor karena dedek nangis minta disusuin tiap 30 menit hingga sejam sekali (sampai-sampai rasa masakan jadi antah berantah) dan acara beberes rumah yang “ya begitulah”.  Ditambah lagi merasakan jahitan yang “sedang dalam proses menuju sembuh”  tapi BAB lancar jaya setiap hari.  Duh rasanya 😂.

Efek dari ketiadaan baby blues adalah saya jadi santai merawat si orok. Ya kadang kaget juga ketika dedek mendadak menangis kencang.  Tapi,  mayoritas saya masih bisa tangani.  Dibantu bapaknya dan kakang.  Nggak ngerti juga sih ya,  kenapa saya bisa santai dan sanggup mengatur waktu untuk ini dan itu.  Bahkan,  sanggup ngepel tiap hari.  Bah,  padahal jaman baru pindah kesini,  rasanya nggak bisa mau ngepel rumah 2 hari sekali.  Setelah beranak dua,  malah lebih rajin untuk bebersih rumah. Heran juga sih saya…

Tapiiiiii…

Saya disadarkan oleh dua orang teman yang kemarin (beberapa hari yang lalu sih) datang menjenguk.  Keduanya wanita bekerja diluar rumah dan satu doang yang sudah menikah plus sedang hamil muda.  Yang sedang hamil muda ini sedang galau dengan urusan pekerjaan setelah melahirkan nanti.  Galaunya,  yang pasti sih “gimana nanti si bayi? Harus gimana aku,  lanjut kerja atau resign? Tapi anak sama siapa?” dan sejenisnya.  Saya hanya bisa kasih masukan,  kalau kamu siap kerja diluar rumah lagi,  ya jalanin.  Kalau merasa berat dan pikiran jadi kacau,  ya dirumah saja dulu (alias resign). 

image

Bahagianya dijenguk para sahabat 😍😍

Mungkin,  kita semua bisa bilang,  ya udah sih tinggal cari babysitter,  ART atau titip dulu sama kakek neneknya.  Diperjelas lagi deh sama saya bahwa teman yang sedang hamil ini adalah mahluk perantauan.  Ayahnya sudah berpulang ke Rahmatullah dan ibunya masih bekerja di Kalimantan sana.  Dari pihak suaminya pun demikian, senasib lah mereka sepasang suami istri.  Nggak ada sanak saudara disini.  Punya asisten juga nggak,  karena tahu persis sulitnya mencari asisten rumah tangga jaman sekarang. Kalau sewa babysitter,  mungkin mereka belum sanggup. Intinya,  pasangan suami istri ini senasib sama saya : sama-sama masih dalam level berjuang dalam meraih kemapanan jiwa-raga di belantara kota Jakarta. Bedanya,  saya dan pak suami sudah menikah sejak enam tahun yang lalu (lumayan makan asam-garam-pahit-manis) ,  sedangkan teman saya dan suaminya baru-baru ini menikahnya.  Jelaslah sudah,  saya turut merasakan kepusingan dia.  Karena tahun pertama dalam pernikahan itu berat loh (menurut saya ya) .  Nggak cuma berjuang untuk beradaptasi dengan pasangan, tapi juga berjuang untuk bertahan hidup (soal materi ya).  Ditambah lagi,  beberapa bulan ke depan akan hadir anggota baru di keluarga mereka.

Nah,  saya ini tega banting setir menjadi ibu rumah tangga dan total mengurus anak di kontrakan rumah dengan kedua tangan sendiri.  Untungnya,  saya ngontrak satu komplek dengan orangtua.  Jadi,  meski jauh dari pak suami yang sedang bekerja keras di Sulawesi dan Kalimantan, saya nggak terlalu kesepian di Cirebon. Cuma,  sempet baby blues aja setelah dua minggu melahirkan kakang 😂.

Setelah pindah dan berkumpul di rumah yang sekarang ini (setelah berjauhan selama 1,5 tahun),  perjuangan makin berat.  Berat karena harus hidup lebih hemat setelah memutuskan mengambil KPR rumah dan kredit motor.  Jungkir balik deh 😂.  Tapi ya,  meski berat,  tetap dilakoni.  Untungnya,  kami masih bisa ketawa-ketawa bertiga walau ada ribut dan tangis-tangisan 😂😂😂.

Trus apa hubungannya dong antara teman saya dan saya…

Jelas,  hubungan yang pertama ya dia teman saya sejak lama. Lebih saya anggap sebagai keluarga ketimbang teman.  Yang kedua,  saya rasakan benar beratnya berjuang di awal-awal pernikahan.  Dan i feel her *halah,  sok English *.  Ngerasa aja pusingnya gimana. Yang terakhir, inilah yang harus dia jalani. Bergalau-galau ria adalah proses si teman untuk mengambil keputusan di kemudian hari.  Sama,  saya juga dulu galau kok.  Agar teman saya tetap maju terus,  saya harus mendukungnya dan kasih tahu pahit-pahitnya menjadi ibu rumah tangga dan pahit-pahitnya terus bekerja di luar rumah setelah memiliki anak. Jahat ya saya,  yang dikasih tahu malah pahit-pahitnya.  Karena kalau dikasih tahu manis-manisnya,  nanti dia rasakan sendiri kan.  Kalau dikasih tahu pahitnya,  paling nggak dia bisa mikir di awal dan mempersiapkan diri sebaiknya.

Apakah masalah dia selesai?

Belum dong.  Karena si teman makin galau setelah mendengar celotehan saya tentang pahitnya hidup setelah beranak pinak 😅.  Jadilah saya tekankan,  “Sudahlah…yang paling penting tuh dijalani aja dulu. Apapun keputusan yang diambil pasti ada pahit-manis.  Yang pasti,  jalani aja.  Bikin happy dari sekarang, mumpung masih hamil muda.  Jadi pas ketemu anak,  hati kita senang-senang aja.  Nggak rungsing soal ini itu”.

Memang benar kan,  semua idealnya dijalani saja.  Percaya saja, jika dijalani pasti ga akan rungsing…

Karena nggak rungsing,  makanya kita sanggup menjalani hidup.  Soalnya kalau nggak sanggup, pasti kita ambil jalan lain : gantung diri atau minum racun serangga lalu bye-bye dunia. 

Jadilah saya sadar,  baby blues ini nggak hadir karena saya nggak rungsing dan memilih untuk jalani saja. Termasuk,  saat melahirkan kemarin.  Saya memilih untuk merasakan setiap bukaan jalan lahir dan cuek aja buang air besar sebanyak-banyaknya diatas perlak.  Lupa deh sampai berapa kali ganti perlak. Nggak ingat malu juga saat BAB.  Bahkan, bidan sampai bertanya “Pak,  ibu kemarin belum BAB ya?” Meski bukaan masuk ke 8, saya masih sanggup menjawab “saya sudah BAB,  mbak.  Cuma semalam saya memang makan banyak”.  Jangan tanya nada suara saya bagaimana ya saat menjawabnya 😅. 

Memilih untuk menjalani membuat hidup saya terasa lebih mudah. Asalkan jangan memaksakan diri untuk menjalaninya.  Kalau memang harus stop,  ya berhenti saja dulu.  Hitung-hitung mengistirahatkan diri.  Nanti juga kita akan siap kembali,  berjuang lagi dan berjalan lagi.

Itu kan yang namanya hidup 😘

image

Ah,  kalian berdua… Penyemangat kami.

By my phone

Persalinan Anak Kedua : 4 Jam Saja dan Menginap Semalam

11 Mei 2015, pukul 04.30 waktu di hape bapaknya,  pukul 04.40 di jam dinding rumah sakit Hermina Depok,  telah lahir putra kedua kami : Fariz Siddiq,  3,625kg,  50cm…

Lega,  itu yang saya rasakan.  Setelah tahu rasanya mengalami induksi alami (soalnya waktu melahirkan kakang memang dibantu induksi buatan melalui infus) dan tahu persis rasanya nggak boleh ngeden dulu (padahal kepala bayi sudah diujung jalan lahirnya) karena dokter kandungan tercinta masih otw ke RS,  akhirnya saya lega banget ketika anak kedua kami lahir.  Jenis kelaminnya sesuai hasil usg selama ini,  laki-laki. Yang nggak sesuai usg itu adalah berat badannya.  Perkiraan kan 3,2kg sedangkan kenyataannya 3,625kg 😂😂😂😂😂. 

Yang penting dan yang utama adalah semuanya sehat.  Nggak cuma sehat bayi dan ibunya,  tapi sehat bapaknya dan kakaknya.  Karena ketika semua anggota keluarga sehat lahir-batin,  maka baby blues pun akan menjauh dengan sendirinya.

Alhamdulillah,  baby blues tidak hadir setelah melahirkan anak kedua.  Karena saat kelahiran anak pertama,  saya diserang baby blues selama hampir 14 hari. Duh,  mengharu biru dan mewek nggak jelas.  Asli,  sedihnya bukan kepalang.  Otomatis,  karena sedih yang dirasa,  jadilah ASI saya sempat mandeg selama 2 hari.

Balik lagi ke proses melahirkan anak kedua…

Seneng banget karena prosesnya mudah.  Ya,  mudah sih ya.  Soalnya ke rumah sakit saat tengah malam.  Sesampainya di rs (pukul 00.30 wib),  langsung jalan ke ruang bersalin.  Cek dalam oleh bidan jaga (namanya Bidan Esther Sinaga) ternyata menjelang bukaan 4. Bahagia dong saya. Dan masih sempat tidur juga disela-sela mules yang datang secara berkala. Sempet minum teh manis yang diberikan oleh bidan cantik.  Sempet juga nyemil-nyemil sambil senyum.

Setiap kali bidan jaga datang untuk memeriksa pembukaan,  saya masih bisa membalas senyum mereka.  Setiap kali ada desakan dari dalam perut alias mules mulai terasa, saya masih bisa menghirup nafas panjang sambil tetap tersenyum. Rasanya? Mules saja, bukan sakit kok. Benar-benar mules seperti ingin buang air besar.  Bedanya,  kalau buang air besar kita bisa mengejan sekejap dan mulespun hilang.  Tapi yg ini,  mules dirasa dan nggak boleh mengejan.  Harus tetap santai 😁.

Bukaan makin besar,  desakan si kecil untuk keluar makin terasa.  Rasanya? Seperti menahan pup tapi sudah diujung jalan 😂😂😂😂.  Meski sudah memohon kepada bidan untuk melahirkan bersama tangan mereka,  tapi tetap deh saya harus menunggu dokter kandungan tercinta.  Hah,  iya… Menunggu 5 menit itu rasanya sudah terlalu lama.  Selama beberapa menit menahan diri untuk tidak mengejan,  tidak terhitung beberapa kali saya buang air besar diatas perlak. Sekali lagi,  betapa sabarnya bidan-bidan jaga itu kepada saya.

Dokter datang dan tindakan dimulai.  Helaan nafas,  mengejan,  aba-aba yang selalu saya dengar hingga akhirnya saya melihat sendiri bagaimana si kecil ikut berjuang keluar dari rahim saya,  kemudian lahirlah putra kedua kami. Tidak sulit,  butuh waktu sekitar 20 menit kurang ya.  Dan yang menyenangkan lagi,  tidak ada perobekan sengaja oleh dokter seperti yang terjadi saat melahirkan anak pertama. 

Benar-benar alami….

Bagaimana dengan suami?  Justru beliau yang paling sabar menemani saya. Lantunan doanya selalu saya dengar.  Dan beliau juga yang paling erat menggenggam tangan saya ketika rasa mules makin sering datang. Kedua matanya tidak lepas dari wajah saya.  Beneran deh,  saat itu saya melihat betapa sayangnya suami kepada saya. Saat proses melahirkan pun,  suami ikut serta mendorong semangat saya.  Beliaulah yang menjadi sandaran punggung saya selama proses kelahiran berlangsung. Saat nafas saya hampir habis,  beliau adalah penyemangatnya.  Hingga akhirnya putra kami meluncur keluar dan saya bisa bernafas lega.

Memang,  proses melahirkan secara alami itu terkadang gaduh.  Ada aba-aba dari dokter dan bidan,  ada kata-kata penyemangat yang selalu mereka lontarkan,  ada ucapan suami yang berusaha mendukung kita.  Semua kegaduhan itu tercipta agar kita (sang ibu) tetap semangat ketika mengantarkan anak kita menuju dunia.  Meski ya, kita juga sedikit ribut saat mengejan 😂😂😂😂.  Untunglah,  saya ingat ucapan dokter kandungan tercinta,  “ketika ibu tenang dalam proses persalinan nanti,  anak ibu pasti akan tenang juga saat meluncur keluar nanti”.

Inisiasi menyusui dini pun berjalan sukses.  Bayi gendut itu diletakkan diatas dada saya dan mulailah dia mencari-cari puting susu ibunya.  Hihihi,  lucu.  Selama IMD berlangsung,  dokter dan bidan memberikan waktu pada kami bertiga untuk dinikmati tanpa gangguan apapun. Hingga hampir sejam lamanya, akhirnya adik bayi diambil untuk diobservasi dan ayahnya diminta ikut untuk menemani si kecil. 

Sisanya,  saya sendirian saja.  Beristirahat sambil mengunyah nasi goreng dan minum teh manis hangat lagi.  Ucapan selamat dari semua bidan jaga saya dapatkan.  Dan semuanya kompak berucap,  “Bayinya gede, bu.  Lucu ya.  Kebayang tadi proses melahirkannya,  bu”.  Saya ketawa,  bahagia sekali di dalam hati. 

Dua jam kemudian,  setelah diajari bagaimana massage perut dan observasi darah yang keluar (Alhamdulillah,  nggak ada yg aneh-aneh), saya masuk ke kamar perawatan.  Iya,  ambil paket di kelas tiga aja 😁. Tapi bagus juga kok pelayanannya.  Makanannya juga enak,  hihihi… Dan di dalam paket registrasi kamar, sudah terdapat 1x gratis senam hamil, 1x senam nifas,  1x perawatan payudara,  1x kelas perawatan bayi.  Pokoknya puas sama pelayanan RS Hermina Depok 🙌🙌🙌🙌.

Di kamar perawatan,  saya bisa tidur dan istirahat dengan enak.  Meski satu kamar isinya ada 5 pasien.  Untungnya,  saat itu cuma ada 4 pasien saja,  termasuk saya.  Bergantian dokter jaga dan dokter spesialis ASI mendatangi saya,  mengecek keadaan saya (dan payudara saya). Beberapa jam kemudian,  saya pun disatukan dengan Fariz.  Yippiieee,  kita room in ya nak. Hanya saja,  saat menjelang sore,  Fariz diambil sebentar untuk dibersihkan.  Kemudian,  diantarkan lagi ke samping saya. 

Tapi nih,  menjelang sore,  semua pasien di kamar saya pulang.  Huaaaaa… Jadilah saya sendirian di kamar yang besar itu.  Berdua dengan bayi sih.  Memang,  karena merasa tidak ada masalah,  saya meminta suami untuk pulang saja dan tidur bersama kakang.  Kasihan juga kakang dibiarkan tanpa kami berdua,  meski tante dan nininya sudah bersama dia.  Ya,  ya,  ya.. Saya males ada drama hihihi… Jadi saya putuskan,  suami dirumah saja dan saya berdua dgn Fariz di rumah sakit.

Malamnya.. Jreng,  jreng,  jreng… Saya tidur nyenyak kok 😂😂😂😂.  Memang sih,  bolak-balik bidan jaga dan suster jaga menjenguk saya.  Mungkin karena mereka tahu saya seorang diri di kamar sebesar itu.  Dan pintu kamar saya dibuka lebar.  Jadi mereka bisa memantau saya dari meja jaga.

Paginya,  saya BAB.  Seneng dong karena nggak perlu perjuangan saat BAB. Dan saya berharap, hari itu bisa pulang ke rumah sesuai dengan ucapan dokter kandungan.  Tepat jam 8 pagi,  dokter kandungan saya datang.  Periksa jahitan dan periksa dalam. Pembalut saya juga dilihat dan bagian perut (utk mengetahui keadaan rahim sih ya) agak ditekan.  Alhamdulillah,  dokter bilang semuanya oke.  Dan rahim saya mulai mengeras lagi,  horeeee… Keluarlah izin untuk pulang saat itu juga.  Langsung saya kabari suami dirumah dan semua pun senang.
Jujur saja,  saya merasa doa-doa saya selama ini dikabulkan.  Saya meminta agar biaya persalinan tidak over budget dari yang ditentukan kantor,  terkabul. Saya juga meminta agar dimudahkan saat bersalin,  dikabulkan juga.  Dan saya meminta agar selalu diberikan kesehatan,  ini juga dikabulkan.  Bahagia betul.  Mungkin karena rasa bahagia ini ya,  jadilah saya tidak merasakan baby blues.  Happy person banget deh.

Sekarang, anak kedua kami sudah lewat dari 14 hari.  Alhamdulillah sehat semua, termasuk kakang. 

Sungguh,  saya bahagia.

image

image

image

By my phone

Mari, Dengarkan Cerita Anak Sejak Dini!

Pagi ini,  saya mendapatkan satu lagi pelajaran bahwa sangat penting mendengarkan cerita anak kita,  meski terasa membosankan hingga absurd. Iya,  absurd.  Kadang,  kita (baca : orang dewasa)  bisa menjadi jenuh saat anak bercerita yang itu-itu lagi.  Seringnya,  anak bisa bercerita panjang lebar-ngalor ngidul-tak tentu arah.  Namun,  bukan berarti cerita mereka tidak ada gunanya untuk kita. 

Memang,  kejadian ini bukan menimpa kakang.  Akan tetapi,  seorang anak kecil yang saya (dan kakang)  kenal. 

Awalnya,  saya tidak menganggap ada hal yang aneh pada si anak.  Sebut saja namanya Re.  Biasanya,  Re selalu ramai berceloteh dan punya suara nyaring saat bermain dengan kakang.  Yang aneh,  pagi ini Re hanya diam. Disodorin mainan,  Re tetap diam.  Kurang bersemangat.

Insting saya pun mulai jalan (sebenernya,  beda tipis antara insting dan kepo ya). Perlahan,  saya ajak Re bicara.  Saya tanyakan ada apa.  Kenapa Re diam saja.  Apakah Re bertengkar dengan kakang.

Re menggeleng.  Kepalanya tertunduk.

Saya tidak patah semangat.  Kembali saya lancarkan jurus “kepo” secara halus.  Saya tanyakan pada Re,  apa ada yang menyakiti hatinya atau badannya sakit.

Mendadak,  Re berurai airmata.  Ups,  saya tahu ini ada yg salah.  Tapi saya tidak boleh gegabah.

Dengan suara tersendat karena tangisan,  Re bercerita bahwa dia mengalami mimpi buruk.  Mimpi bertemu hantu. 

Hantunya seperti apa,  tanya saya pada Re.

Re kembali menjawab,  hantu itu seram kok tante.  Re ketemu dia saat olahraga.

Memangnya Re olahraga dimana,  tanya saya lagi.

Re olahraga disitu. Sama kakak N. Jawab Re,  masih sambil menangis.

Kakak N ini siapa,  tanya saya.

Ada,  tante.  Kakak ini yang bilang ke Re kalau ada hantu.  Kakak N ini yang suka gitu-gituin Re.

Deg,  hati saya menciut mendengar kata “gitu-gituin”.

Pelan-pelan, saya mendekati Re.  Saya usap-usap bahunya.  Dia masih menangis sesegukan. Saya kembali mengajaknya berbicara dengan intonasi yang lembut dan mengalir.

Re… Memangnya,  Re digitu-gituin gimana. Tanya saya dengan sangat hati-hati.

Re mengusap airmatanya lalu menjawab,  kakak N selalu bilang hantu-hantu-hantu ke aku,  tante.  Dia selalu begitu ke aku.  Terus,  habis itu aku ditinggal.

Saya agak lega,  ternyata bukan fisik Re yang disakiti.

Jadi,  kakak N nggak ada sakitin badan Re. Tanya saya padanya. Re menggeleng kencang.

Kakak N cuma sering bilang hantu-hantu-hantu ke aku,  tante.  Jawab Re.

Lepas dari jawaban Re (yang bikin saya lega hati), mulailah saya selipkan pengertian mengenai hantu. Dengan bahasa yang bisa dimengerti oleh Re, saya jelaskan bagaimana menghadapi hantu serta menjelaskan bahwa kita tidak perlu takut dengan hantu.

Tapi tante,  gimana kalau hantu itu di dalamnya orang? Tanya Re sekali lagi.

Saya sempat bingung menjawabnya.  Namun saya beri penjelasan,  jika di dalam si hantu ada orangnya,  maka si orang itu bukan hantu.  Melainkan badut yang memakai baju serta topeng yang seram.

Seketika,  Re tertawa lepas.  Kemudian saya jelaskan satu hal…

Re,  jangan takut dengan hantu ya.  Kalau hantu itu ada orangnya dan mulai sakitin badan Re atau bikin Re takut,  maka lempari dia dengan batu.  Kalau tidak ada batu, Re teriak yang kencang.  Sekuat-kuatnya supaya semua orang dengar,  supaya semua orang tahu.

Re menggangguk setuju.  Selepas itu,  tawanya kembali bergema dan Re kembali bermain dengan kakang seperti sediakala.

Absurd sekali ya.  Karena sering di takut – takuti tentang hantu,  seorang anak kecil bisa menangis sesegukan dan seperti mengalami peristiwa yang membuatnya trauma.  Tapi,  tanpa sadar,  anak kecil memang gampang menyimpan memori buruk kan.  Apalagi,  jika kejadian tersebut berulang-ulang terjadi padanya.  Maka saya anggap wajar jika Re merasa sedih dan takut akibat dari perilaku Kakak N kepadanya berulang-ulang. 

Disini saya sadar,  betapa besar peran orangtua (ayah dan ibu) untuk selalu mendengarkan cerita anak.  Meski cerita anak itu terdengar cetek di telinga kita,  namun tugas kita lah yang mengarahkan dan menjelaskan pada anak mengenai makna dari cerita yang telah ia uraikan pada kita.  Walaupun ngalor ngidul, mendengarkan cerita anak adalah kewajiban kita.  Karena,  dari cerita merekalah kita bisa memahami karakter mereka,  memahami isi pikiran mereka,  memahami apa yang mereka rasakan. Bahkan, cerita-cerita yang keluar dari mulut mereka bisa membawa kita untuk mengerti apa yang mereka harapkan dan mereka cita-citakan.

Sekali lagi,  kita sebagai orangtua wajib untuk mendengarkan cerita anak-anak kita.  Kalau bukan kita,  siapa lagi yang akan mendengarkan mereka? Apa kita rela,  jika anak-anak kita lebih memilih bercerita dengan terbuka kepada orang lain diluar sana?

Saya yakin, jawabannya pasti tidak.  Maka,  yuk mulai dengarkan cerita anak, meski anak kita masih bayi ataupun masih balita. 

image

Ceritakan semuanya pada mama, nak...

Notes : nama si anak saya samarkan dan usia si anak masih dalam kategori balita. Percayalah,  jangan remehkan cerita anak kita meski usia mereka masih sangat muda…

Short Trip : Ngungsi Ke Bandung, Jalan-jalan Sejenak

Nah,  karena jarang-jarang bertemu dengan keluarga jauh,  jadi saya agak melonggarkan waktu tidur kakang.  Memang,  kalau sedang mudik begini (baik ke Bandung,  ke Tasikmalaya atau ke Cirebon),  saya perbolehkan kakang tidur agak malam dan puas-puasin diri main bersama saudara-saudara.  Spesial di Bandung,  kakang juga saya perbolehkan main bersama Kitty,  kucing milik keluarga di Bandung.  Kitty ini aslinya cantik deh.  Sayang,  tomboy.   Hobinya manjat genteng dan kabur dari rumah 😠.  Padahal,  doi tuh kucing betina. Haduh,  betina jaman sekarang ya, bikin sakit kepala 😯.

image

Saat Kitty dikarantina, gara-gara doi sakit 😥

Trus,  ngapain aja sih biasanya kalau ke Bandung?

Aslinya saya nyerah kalau diajak wisata kuliner di Bandung.  Alasannya sederhana sih,  nggak akan ada habisnya.  Jajan di pinggir jalan aja juga enak kalau di Bandung.  Kebiasaan saya (yang ditularkan oleh adik ipar nih),  setiap kali kami pulang kesini adalah jajan di dekat gereja saat Minggu pagi.  Jangan tanya saya nama gerejanya ya.  Pokoknya,  masih disekitaran dekat rumah Nini deh.  Di area dekat gereja situ,  ada banyak jajanan yang bisa dibeli.  Ada siomay,  baso tahu,  kue cubit (dengan greentea dong!),  cakue,  lumpia basah.  Ada juga menu sarapan yang berat dan bikin kenyang.  Haduh,  pokoknya disekitaran situ rame makanan deh.

Tapi,  saya selalu kangen dengan bubur ayam Telkom. Ini juga dikenalin sama suami pas kita baru nikah dulu (ehem!).  Buburnya enaaakkkkkk banget.  Toppingnya penuh dan bikin kenyang.  Harganya sekitar 12ribuan kali ya,  saya lupa! Kebiasaan nih nggak nanya harga per porsi.  Tahu-tahu,  bayar pas total di akhir aja. Sayangnya,  saya lupa motret dimana posisi tukang bubur dan gimana porsi buburnya,  hihihi… Maklum ya,  kalap dan lapar.  Inget fotoin makanan pas bubur hampir habis. Pokoknya,  posisi tukang bubur ada di depan kantor Telkom Tamblong. 

Biasanya,  saya paling malas keluar rumah kalau sudah ada di Bandung.  Nggak tahan sama macetnya.  Standarnya sih,  saya dan suami jalan-jalan disekitar rumah Nini aja.  Kalau mau jajan, tinggal ngesot ke Jalan Veteran (mulai dari Kingsley sampai tukang julanan makanan lainnya bertaburan disitu).  Ada juga tempat makan di sekitaran Jalan Sumatera. Rame banget dan cukup ngesot juga. Ngesot lagi ke Jalan Sunda,  nah disitu ada tempat makan sate dan nasi goreng kambing kesukaan kami berdua. Atau ajak si kakang jalan ke Taman Lalu Lintas (inipun lagi-lagi cukup jalan kaki saja).

Berhubung saya ingin kakang merasakan jalan-jalan yang sebenarnya,  jadilah saya rayu pak suami untuk berkeliling sejenak.  Nggak usah jauh-jauh deh,  cukup sekitaran tengah kota.  Tujuannya jelas demi kesenangan si anak.

image

Lari sana-sini mendahului papa...

image

Berasa musim gugur ya, Nak 😁

Kali ini,  kami pergi jalan-jalan dengan para sepupu. Seru loh jalan-jalan dengan sepupu,  soalnya saya berasa masih muda (baca : berasa seumuran😂).  Awalnya saya kepengen banget ke Cisangkuy.  Sudah terbayang yoghurt dingin dan bolu keju yang selalu jadi menu favorit sejak pertama kali saya makan disitu.  Eh,  sayangnya jalanan disekitar Cisangkuy ramainya nggak ketulungan.  Banyak pedagang kaki lima di pinggir jalan.  Susah pula cari parkir meski mobil kami sudah imut.  Tapi nggak usah bete dong.  Kan niatnya jalan-jalan santai.  Gagal bernostalgia di Cisangkuy,  saya usul pada suami untuk mengarahkan mobil ke arah ITB.  Tetep dong,  tujuan utama adalah berjalan-jalan tapi harus ada acara jalan kakinya 😁. 

Sebenarnya,  sebelum ke Cisangkuy,  saya dan suami sepakat mengajak kakang dan para sepupu ke arah alun-alun.  Maklumlah ya,  kami pengen banget lihat rumput sintetis yang sedang hits itu.  Sayangnya,  rame dan panas.  Dan saya ogah panas-panasan.  Maunya ke tempat ya teduh dan nyaman.  Itulah sebabnya,  setelah gagal berumput ria di Alun-alun,  kamipun menuju Cisangkuy. Sayangnya,  berhubung Cisangkuy ramai dan padat,  akhirnya kami mlipir ke ITB.

Sujud syukur di sepanjang jalan ITB tidak terlalu ramai.  Dan mobil bisa diparkir dengan aman.  Plus,  banyak tukang dagang-jualan-jajanan,  horeeeee… Bahagia,  iyalaaahhh! Dan yang paling menyenangkan,  kami bertemu pedagang yoghurt yang enak-murah meriah dan mobil pickupnya (iya,  jualannya pake pickup) bersih :). Jadi,  sambil jalan-jalan sambil seruput yoghurt dingin.  Ih,  segar!

image

Fokus dengan yoghurt strawberry

Memang sih,  acara jalan kakinya cuma sebentar.  Tapi melihat kakang senang,  kami juga senang kok.  Apalagi ketika dia tunjuk sana-sini,  bebas lari kesana-kemari dan tertawa dengan lepas.  Semua itu membuat hati saya ikut gembira.  Bener kan kalau bahagia itu sederhana 😁.

image

Dua orang tante yang rela nemenin dan ladenin kakang

Beres jalan-jalan dari ITB,  suami mengajak kami berjalan-jalan lagi. Katanya,  beliau kangen Ciwalk alias Cihampelas Walk. What,  papa!! Masa sampai disini kita masih ke mall aja.  Tapi,  karena sayang suami,  saya ikutin deh maunya apa. Jangan ditanya ngapain aja kita di mall.  Cuma ngukur lebarnya mall lalu pulang 😁. 

Belum lengkap ke Bandung kalau kami tidak membawa pulang oleh-oleh berupa kue.  Favorit kami sekeluarga adalah brownies made in Prima Rasa.  Beres ngukur luas mall Ciwalk,  kami segera capcus menuju toko kue Prima Rasa di Jalan Kemuning. 

Tapi yah,  dasar anak-anak.  Penampakan balon biru berbentuk pesawat lebih menarik minatnya ketimbang brownies di dalam toko.  Alhasil,  saya segera mengucapkan mantra “Kang,  bilang dulu sama papa ya.  Boleh atau nggak boleh beli.  Soalnya,  papa ajak kita kesini untuk beli kue dan mau dibawa kerumah”. Anak saya setuju untuk membeli kue dulu,  setelah itu meminta izin pada papanya.  Fiuh,  sejenak saya bisa lega.
Beres belanja makanan *pada dasarnya kami memang tukang makan sih,  kakang segera ingat dengan balon pesawat tadi.  Entah bagaimana cara dia bernego dengan pak suami,  akhirnya keluarlah izin dibolehkan membeli balon tersebut. 

image

Balon yang kakang mau 😂

Kelar beli kue,  kami semua pulang ke rumah Nini.  Pas banget,  waktunya makan siang.  Dan memang sudah janji dengan Bibi di rumah kalau kami makan siang dirumah saja.  Makan siang beramai-ramai,  nikmat bangeetttt! Pastilah diselingi cerita-cerita dan kelakuan kakang yang bikin mamanya menghela nafas 😄. 

Sore hari,  kami harus pulang.  Setelah molor sekian jam dari jadwal kepulangan yang ditentukan pak suami,  akhirnya kami harus benar-benar pulang.  Rasanya sih belum ingin pulang,  masih pengen semalam lagi ngobrol dan tidur disitu. Cuma kan pak suami harus kerja esok pagi.  Selesai pamitan dengan Nini,  dengan semua Bibi,  dengan Mang dan para sepupu,  kamipun berangkat menuju Depok. 

Haaaaa… Semoga bisa main lagi ke Bandung,  sesegera mungkin yaaaaa…

image

We called it : Home

Short Trip : Ngungsi Ke Bandung

Mendadak banget, setelah selesai semen-semen (bahasa apa sih ini?!)  lantai kamar mandi,  suami ngajak ke Bandung.  Loh,  kan saya yang bengong jadinya. Mana masih pakai daster lagi,  tapi sudah mandi dong.  Kan disuruh pak suami mandi pagi-pagi karena beliau mau berbenah lantai kamar mandi (jadi,  bye bye mandi siang saat akhir pekan 😯).

Saya jadi balik nanya,  bukannya semalam kita diskusi mau keluar saja sampai malam atau mau sweet escape nginep di Bogor ya. Pak suami menggeleng.  Kata beliau,  mending ke Bandung aja.  Bisa ketemu Uyutnya kakang,  ketemu Mang dan Bibi-bibi juga ketemu adik-adik sepupu.  Nah,  girang dong saya mau diajak ke Bandung. Dan meski judulnya keluarga di Bandung itu adalah keluarga dari pihak suami,  alhamdulillah,  saya akrab dengan semuanya.  Dan cocok pul,  huahahaha…

Mumpung pak suami rehat sebentar,  saya langsung beberes pakaian.  Meski cuma semalam,  tapi tetep dong nggak boleh ketinggalan printilan sekecil apapun. Keperluan pak suami,  keperluan kakang dan keperluan saya sendiri harus total-maksimal dipersiapkan.  Selesai makan siang dan adzan Dhuhur,  kami pun bersiap-siap. 

Yang heboh bukan cuma saya.  Kakang pun lebih heboh dari ibunya,  hihihi… Dia memang suka sekali diajak ke Bandung,  ke Tasikmalaya atau naik kereta ke Cirebon.  Nggak tahu ya,  anak ini benar-benar menikmati perjalanan jauh deh. Untunglah,  sejak bayi diajak kesana kemari (mulai dari naik mobil hingga kereta),  kakang nggak pernah rewel.  Dan sama seperti saya,  kakang juga akrab dengan semua keluarga di Bandung. Makanya,  pulang ke rumah Uyutnya di Bandung selalu berasa pulang ke rumah sendiri.

image

Menuju Bandung, agak mendung sendu-sendu gitu 😁

Berhubung dadakan,  jadi saya juga dadakan mengabari adik ipar yang ada di Jakarta.  Niatnya,  saya mau ajak dia kabur sebentar dari Jakarta.  Sayangnya,  belum rejeki pergi ke Bandung bareng dia gara-gara hapenya susah di hubungi.  Jadilah,  pak suami memutuskan untuk “kita aja lah yang pergi sekarang  supaya ga kemalaman sampai di Bandung”.  Beres isi bensin,  kami segera menuju tol.  Tapi yah,  namanya juga dadakan,  ada aja yang ketinggalan dirumah dan kudu balik lagi ke rumah lantas capcus ke tol.

Niatnya sih mau bikin kejutan keluarga di Bandung.  Sayangnya,  mamah wanti-wanti saya untuk mengabari keluarga di Bandung supaya nggak shock mendadak kita datangi 😁.  Jadilah,  surprise yang gagal ini terjadi akibat saya mengabari para Bibi di Bandung.  Kecuali adik-adik sepupu ya,  soalnya masih berniat bikin surprise ke mereka huahahaha…. Nasib sih,  tetep aja di tengah jalan salah satu adik sepupu nebak saya sudah ada dimana *gagal bikin surprise.

Sejak dari rumah,  saya bilang ke pak suami supaya santai aja di jalan. Sebenernya suami saya orangnya nyantai kalau nyetir mobil (pada dasarnya,  beliau memang orang yang santai sih hihihi…).  Masalahnya,  kalau keenakan nyetir,  beliau suka lupa liat speedometer.  Karena saya adalah partner hidupnya,  maka setiap kali naik mobil bareng pak suami,  saya selalu menjadi navigator, termasuk juga yang hobi liatin speedometer.  Lebih mirip alarm sih jadinya :'(.  Biarin deh cerewet.  Yang penting saya merasa aman.

Sebelum masuk tol,  saya sudah menyiapkan perbekalan selama di jalan.  Gunanya,  supaya kakang anteng di jalan 😁.  Memang sih dari pertama ada mobil, kakang nggak pernah loncat-loncatan atau rusuh kesana kemari.  Cuma,  dulu kakang hobinya duduk di lantai,  bukan di kursinya.  Susah banget ngajarin kakang duduk di kursi mobil.

Untungnya,  kakang bukan tipe anak yang jejingkrakan di dalam mobil.  Kalau dikasih tahu mana yang boleh dan mana yang nggak boleh,  dia mau paham.  Asalkan,  diiringi penjelasan yang akurat.  Jadi,  sejak awal ada kendaraan roda empat di rumah,  kakang nggak ribet untuk diajari “aturan naik mobil tuh begini ya”.  Eh,  ya tapi mungkin karena terbiasa naik mobil milik nini-aki juga sih ya.  Selama ada makanan dan di dekat ibunya,  kakang bakalan adem ayem. 

Sampai di Bandung sih malam ya.  Tapi nggak macet dan lancar jaya,  hihihi…  Sempet juga beli martabak keju untuk keluarga dirumah.  Jangan tanya bagaimana kakang setelah mobil masuk pekarangan rumah Uyutnya.  Begitu pintu dibuka,  dia langsung memberi salam dan masuk ke dalam rumah.  Huahahaha… Kangen ya,  nak.

Makan malam,  ketemu semua bibi dan mang juga adik-adik sepupu membuat saya senang.  Iya,  happy deh rasanya bisa mengunjungi saudara.  Yang paling saya suka setiap kali pulang ke rumah adalah ngobrol dengan saudara-saudara. Ada saja cerita yang mengalir.  Lalu dapat kabar ini-itu.  Senangnya lagi,  berasa ramai.  Yah,  maklum deh ya.  Kalau dirumah sendiri kan seringnya bertiga aja.  Jadi yaaaaa,  begitu melulu keadaannya,  hahahaha…
Bersambung…

Jumat Barokah : Langsing Itu Bonus Dari Pola Hidup Sehat

Katanya sih,  hari Jumat itu penuh berkah. Mungkin,  nilai pahala dinaikkan berkali-kali lipat jika berbuat kebaikan di hari Jumat ya (Aamiin…).

Berhubungan dengan kebaikan,  saya jadi kepikiran untuk nulis yang bener dan bermanfaat setiao hari Jumat.  Sebenernya,  bisa dibilang “sengaja bikin tema tulisan tiap Jumat”  😁.  Tujuannya,  supaya yang baca (minimal jadi pengingat untuk diri saya deh)  bisa memetik hal positif dari tulisan yang saya buat setiap hari Jumat,  hihihi…

Jadi,  inilah tulisan Jumat pertama saya.  Banyak sih tulisan bertema berbagi kebaikan yang ingin saya tulis sekarang.  Tapi,  yang paling mudah sih,  bertemakan soal penurunan berat badan kali ya.  Soalnya,  saya sudah berhasil menurunkan angka kiloan yang cukup banyak,  cukup berhasil juga menjaganya selama bertahun-tahun dan saat hamil sekarang pun,  saya berusaha sesuai dengan aturan dokter kandungan mengenai kenaikan berat badan selama hamil.

Dulu,  saya selalu dikenal sebagai perempuan yang bongsor.  Dibandingkan kakak-kakak saya yang langsing, ukuran tubuh saya lebih besar dari mereka.  Bahkan,  size pakaian saya juga lebih besar dari mereka.  Itulah sebabnya, saya lebih senang memakai kaos all size.  Soalnya,  mau pakai baju cewek gitu,  ga ada ukurannya.  Ada sih ukurannya,  tapi jarang XL atau L besar.

image

Selesai melahirkan,  berat badan ada di 90 kilogram.  Menjelang melahirkan,  92 kilogram.  Size pakaian,  jangan ditanya.

Oke,  setelah itu menikah… Saya masih ingat angka berat badan saya berada di posisi 58 kilogram. Itu juga bisa turun dari 65 kilogram karena saya sutris persiapan untuk akad dan keliling sana-sini mencari gedung,  katering,  undangan,  siapkan list tamu dan bolak balik fitting pakaian.  Ditambah lagi keberadaan pak suami (eh,  waktu itu masih calon sih)  yang jauh di luar Pulau Jawa.  Yuk deehhhh.. Semua diurus sendiri.  Lalu apakah saya menjadi keren karena berhasil turun hingga 58 kilogram?  Sebenarnya,  nggak juga sih.  Karena saat kami menikah,  pak suami bermodalkan 55 kilograma dengan tinggi badan hampir 175 cm.  Beda dengan saya yang 58 kilogram tapi selisih tinggi badan 12 cm dari pak suami.  Yess,  kami masih terlihat seperti angka 10 ya…

Yang paling menyentak saya adalah saat hamil dan setelah melahirkan.  Saat hamil,  kenaikan berat badan saya benar-benar melesat jauh,  hingga 92 kilogram.  Alhamdulillah,  masih bisa melahirkan dengan normal.  Yang bikin sebel,  usai melahirkan masih juga betah di 90 kilogram.  Memang sih,  sempat turun jadi 85 kilogram saat anak berusia hampir 2 bulan. Eh,  sebulan kemudian malah naik lagi menjadi 87 kilogram.  Makin bingung…

image


Silakan bandingkan body suami dan body saya…. Foto,  setelah melahirkan anak pertama…

Saya sempet sedih juga loh dengan berat badan yang berlebihan ini.  Apalagi,  setelah mengetahui bahwa saya termasuk obesitas.  Rasanya menakutkan.  Tapi,  mau tau caranya turun berat badan dengan benar juga (saat itu)  saya belum paham.

Pelan-pelan,  saya mulai mencari referensi kesehatan tentang ibu menyusui.  Dari situ,  saya mulai tertarik membaca tentang pola makan sehat dan rajin berdiskusi dengan dokter spesialis anak (yang jadi langganan anak saya untuk imunisasi) mengenai pola makan sehat dan benar untuk ibu menyusui.  Intinya sebenarnya mudah loh.  Cukupi kebutuhan diri dengan pola makan 4 sehat 5 disempurnakan. Jadi,  kebutuhan saya akan karbohidrat,  sayuran,  protein,  buah-buahan dan susu tidak berkurang.  Hanya saja,  porsi nasi putih memang dikurangi, menu sarapan diganti,  cemilanpun bukan lagi cake atau snack kemasan,  minuman kemasan saya jauhi dan mencukupi air putih.

Dalam sebulan menjalani pola makan seperti ini,  berat badan saya turun banyak,  huahahaha… Lama kelamaan,  selama setahun saya jalani (ditambah dengan olahraga saat bisa melewati sebulan pertama melakukan pola makan sehat),  saya bisa menyentuh angka 58 kilogram. Akhirnya,  selama 1.5 tahun menjalani pola makan sehat serta berolahraga setiap hari selama 30 menit,  saya bisa menurunkan berat badan hingga 53 kilogram. Horeeee…

image

Dan inilah hasilnya, di angka 53 kilogram

Kebiasaan sehat ini terus menerus saya jaga.  Mulai dari Senin hingga Jumat,  saya tetap melakukan pola makan sehat itu. Sabtu dan Minggu,  saya bisa menyenangkan lidah dengan memilih menu makanan yang saya pilih,  diluar pola makan sehat.  Saat akhir pekan inilah,  saya bisa makan cake kesukaan atau membeli martabak keju. Kadang,  saya membeli greentea latte saat akhir pekan juga,  hihihi… Tapi,  untuk olahraga nggak ada matinya dong.  Justru,  saat akhir pekan, saya memulai pagi dengan berlari.  Makanya,  meski bebas makan apa saja saat akhir pekan,  tapi saya nggak lupa untuk berolahraga.

Lantas bagaimana keadaan saya saat hamil kedua seperti sekarang?

Alhamdulillah,  saya bisa menjalani perintah dokter kandungan,  hihihi… Dokter sudah meminta saya untuk waspada mengenai kenaikan berat badan selama hamil.  Batas maksimal kenaikan berat badan saya adalah 74 kilogram hingga saatnya melahirkan nanti.  Hingga memasuki usia kandungan hampir 8 bulan,  berat badan saya masih bertengger di angka 68 kilogram. 

image

Saat sedang jalan pagi bersama Kakang.  Untung,  celana olahraga yang biasa dipake masih muat.  Nggak banyak beli baju dan celana hamil kali ini,  hihihi…

Pola makan saya hampir sama. Meski bandel dikit sih,  karena lagi doyan-doyannya bikin pie susu dan frozen yoghurt.  Olahraga pun mulai saya terapkan ketika memasukin usia 7 bulan.  Jalan pagi dan yoga dirumah adalah andalan saya untuk tetap aktif berolahraga.  Ditambah lagi,  yoga pernafasan yang bisa membuat saya lebih rileks. Asupan air putih juga lebih banyak lagi,  mengingat saya tetap aktif bergerak meski sedang hamil.

Mungkin,  banyak yang berpikir “niat amat sih ngurusin badan?”.  Tapi masalah utamanya bukan soal di menguruskan badan sih.  Melainkan mengembalikan lagi rasa percaya pada diri sendiri.  Percaya bahwa hidup sehat itu memang benar adanya dan sehat itu penting.  Saya bisa bandingkan saat saya masih gemuk,  lalu saya menjadi obesitas kemudian saya menjadi yang ideal.  Jujur,  saat saya belum menikah,  kategori badan saya adalah gemuk.  Dan saya nggak kuat untuk berlari sepanjang 5 kilometer.  Nafas aja sering ngos-ngosan kalau sudah jalan kaki jauh. Plus gampang berkeringat dan sering banget kecapean.  Saat saya obesitas,  jangan ditanya deh.  Nggak kuat mau olahraga.  Stretching aja nggak sampe ke mata kaki.  Berbeda jauh saat saya menjadi ideal.  Sanggup berlari jauh hingga 10 kilometer dan sanggup melakukan yoga sesuai dengan video yang ada.  Nafas ngos-ngosan dan gampang lelah,  tidak lagi saya rasakan. 

Nah,  saat tubuh saya menjadi ideal itulah saya mulai berpikir “eh,  ternyata saya bisa ya berlari sejauh ini… Eh,  ternyata saya kuat ya menjalani program olahraga Insanity…  Eh,  ternyata saya sanggup beryoga dari awal sampai akhir tanpa kehabisan nafas…”.  Kemudian timbul rasa percaya diri dan tidak ada lagi pernyataan bahwa saya nggak bisa,  saya nggak sanggup…

Semua memang butuh proses dan proses menguruskan badan bukan hanya berdampak pada fisik kita.  Pikiran dan batin kita juga kena dampaknya loh. Tentu saja,  dampaknya positif sekali.  Apalagi,  ketika kita bisa mengalahkan diri sendiri dalam kompetisi menguruskan badan ini.  Perasaan bahagianya berlipat ganda. Karena sebenarnya,  kompetitor terbesar bagi setiap manusia itu adalah dirinya sendiri,  bukan musuhnya atau temannya.  Pikiran jelek dari otak kita yang selalu bilang kita nggak bisa,  hati kitalah yang selalu ragu untuk menjalani sesuatu padahal kita belum mencobanya…

Jadi,  pola makan sehat,  olahraga yang rutin dan istirahat yang cukup adalah kunci tubuh menjadi ideal kembali. Dan saran ini bukanlah sebuah kebohongan apalagi tipikal diet yang palsu.  Selama bisa menjalani pola hidup sehat seumur hidup, selama itu pula badan ideal adalah milik kita. Asalkan,  kita mau menjalaninya…

image

Dia adalah seorang anak. Seorang anak ini dan seorang anak yang saya kandung adalah penyemangat bagi saya untuk tetap sehat. Mereka berdua adalah harapan saya. Dan saya ingin melihat harapan itu tumbuh sehat seiring menuanya diri saya yang (semoga) tetap sehat, Aamiin...

Virus Santai Yang Bikin Enjoy

Soal ekspektasi, yang terlalu tinggi itu,  saya pernah mengalaminya.  Seringnya di masa lalu. Masa sekarang malah jarang banget terjadi.  Yang ada,  untuk sekarang,  saya sering terkaget-kaget karena sering merasa kejatuhan rejeki mendadak gara-gara jarang “memasang”  ekspektasi terlalu tinggi lagi.

Dulu,  ada banyak hal dan keinginan yang (saya harap) bisa diwujudkan.  Maunya begini,  maunya begitu.  Tapi ya,  ternyata memang nggak selamanya harapan berdekatan dengan kenyataan.  Yang ada,  jauh dari impian. Akhirnya,  saya jadi sedih sendiri.  Merasa gagal.  Failed,  yow!  Lalu,  jadi malas meraih impian lagi.

Tapi saya juga sering lupa,  bahwa dulu saya ini terbakar semangat muda.  Yaaaa,  biasalaaahhhhh… Pengen jadi ini,  pengen kerja disitu,  supaya bisa begini,  lalu akhirnya begitu.  Ketika dijedotkan pada kenyataan,  sering lupa bahwa banyak jalan lain yang bisa saya ambil untuk mencapai keinginan tersebut. Karena fokus pada kegagalan,  malah lupa ada hal lain yang bisa diraih dan tetap bisa bikin hidup jadi menyenangkan.

Setelah menjalaninya secara langsung,  memang menikah itu membuat pribadi saya jadi berkembang.  Saya bilang,  saya jadi lebih baik sih.  Tapi orang-orang yang mengenal saya bilang,  sekarang bawaan saya jadi lebih santai.  Nggak seperti dulu yang maunya saklek sesuai aturan,  harus ikuti maunya,  harus A karena kalau nggak A jadi nggak bagus (padahal masih ada B,  C,  D dst yang tetap bisa bikin jadi bagus,  hihihi…) dan aturan baku sejenisnya yang bisa bikin orang lain jadi “iyeuw”  ke saya.  Jangankan orang lain,  suami saya juga sempet protes kok “kamu kok orangnya kaku dan perfect banget sih? Santai aja lah…  Ini kan masih bisa dibuat B,  C atau D…”.  Yup,  di awal-awal menikah,  hal-hal kecil bin sepele seperti ini yang bikin kami jadi ribut dan berakhir dengan diam-diaman. 

Berangsur-angsur,  saya memang berubah sih.  Nggak terlalu saklek.  Lebih santai dan lebih menerima.  Misalnya nih,  dulu saya pasti ngomel kalau rumah berantakan.  Padahal ya,  wajar kan rumah berantakan.  Namanya juga ada balita yang mulai lancar jalan dan ketiadaan asisten rumah tangga.  Eh,  malah sering ngomel-ngomel sendiri dan berakibat stress sendiri. Berasa lelah sendiri,  capek sendiri,  ngapa-ngapain rasanya sendiri.  Pokoknya rasanya sendiriiiiiii aja. Drama queen sekali,  hihihi…

Beda dengan saya yang dua tahun terakhir ini.  Saya mulai jarang ngomel dalam dua tahun terakhir.  Sekarang saya lebih enjoy menjalani semua rutinitas dan lebih santai melihat hal-hal yang tidak saya suka (terutama soal rumah yang berantakan😁).  Dan saat saya melihat suami atau anak tidak memahami maunya saya,  ya saya pilih berdamai saja alias nggak memaksakan.  Mana tau, mereka memang belum bisa melakukan apa yang saya minta untuk saat ini.  Tapi,  siapa tahu ke depannya jadi bisa kan.  Masih ada banyak waktu untuk meminta pertolongan mereka.  Toh,  kalau pun misalnya saya bisa melakukannya sendiri,  saya pilih untuk melakukannya seorang diri. 

Tapi iya loh,  jadi manusia santai seperti sekarang nggak bikin kepala saya pening.  Kalau dulu saya bisa ngomel nggak jelas dan nangis gak jelas lalu jadi ribut, sekarang santai saja melakukan semua rutinitas itu.  Yang penting, dijalani saja. Selesaikan satu hal,  lalu lanjut ke hal kedua,  lanjut lagi dan lagi hingga saatnya semua pekerjaan tuntas. Dan ketika saya dihadapkan pada hal-hal ruwet yang bikin saya “OMG!! KOK BISA???”,  maka saya memilih langsung berdoa kepada-Nya di dalam hati sambil tarik nafas dalam-dalam.  Widih,  bijak banget ya.  Tapi mujarab loh.  Dan sambil mencermati masalah yang bikin pusing kepala itu,  saya jadi lebih tenang dalam berpikir. Seringnya,  saya kesampingkan dulu masalah tersebut jika saya masih belum sanggup menemukan solusinya, sambil terus berdoa.

Apakah ini pertanda stok sabar saya mulai meluas? Entah juga ya.  Tapi yang pasti,  saya lebih suka diri saya yang berkembang seperti sekarang.  Berasa nggak pusing tujuh keliling soalnya 😄.  Dan efeknya,  berasa lebih bersyukur dan bahagia.

Sungguh, virus santai dari suami itu memang ada gunanya ya…

image

Umur boleh beda jauh, tapi mereka berdua sangat enjoy untuk bermain bersama